Litte Sun

belong to the stars over ocean

  • Beranda
  • Laut
  • Langit
  • Pohon
  • Surat
menikmati sunrise
sisi langit sebelah barat,
belum ada gurat matahari

Hari ini, aku terjaga pukul lima sampai enam pagi. Maksudku, pada pukul segitu aku benar-benar terjaga tanpa paksaan; sudah sarapan, sudah mandi, lalu aku pergi ke balkon lantai dua, menikmati udara dan suara-suara yang hanya bisa dinikmati waktu pagi seperti ini.
Sebenarnya aku tidak tahu juga apa yang menggangguku sampai aku tidak bisa tidur. Ceritanya kemarin, sehabis aku makan malam, aku merasa lelah dan sedikit pusing. Jadilah aku tidur selepas adzan isya, pukul sembilan lebih lima belas menit, aku sontak terbangun karena mimpi buruk yang datang kepadaku. Selepas itu, aku tidak merasa mengantuk sampai pagi. Sudah kucoba untuk tidur, sudah pindah kamar, sudah dengan lampu menyala, tetap tidak bisa. Ada yang mengganggu di kepala, tapi aku tidak tahu itu apa.
Pada pukul setengah tujuh pagi, aku memutuskan untuk menulis saja di blog. Meski sebenarnya tidak ada yang benar-benar ingin kutuliskan—atau memang sudah lama entah aku mencoba menulis, tapi kata-kata tidak ada yang keluar.
Semalam aku akhirnya selesai menyalin catatan puisi pada pertemuan-pertemuan yang lalu. Sebenarnya bukan karena aku rajin, tapi lebih kepada karena itu caraku mengalihkan perhatian dari kesibukan yang menekanku, lebih karena itu adalah pelarian dari tugas-tugas dan kerjaan yang sesungguhnya. Kemarin sewaktu semester satu, pelarianku adalah mengerjakan tugas tafsir untuk mata kuliah Agama Islam Kontekstual. Aku selalu mengerjakan tugas itu saat di otakku buntu tidak bisa mengerjakan tugas lainnya, waktu itu, paper. Jadi, ini semacam itu.
Setelah itu yang kulakukan adalah menonton drama korea, tapi tidak akan kuceritakan pada kesempatan ini, karena aku belum selesai menonton, jadi akan aku tuntaskan dulu sampai dramanya habis. Menonton satu episode drama itu membuatku lapar, tapi tidak ada makanan. Saat menonton drama tersebut, pikiran dan energi terkuras, tapi tetap saja, aku tidak bisa tidur, mataku sangat segar, tidak merasa ngantuk sama sekali.
Akhirnya, ada temanku yang terjaga dan ia mengirimkan pesan kepadaku, akhirnya kami mengobrol sedikit, lalu aku pamit tidur, tapi tetap tidak bisa tidur. Katanya, Ia juga terjaga karena kopi, tapi saat kubalas pesannya, nampak Ia sudah berhasil tidur. Jadi aku sendirian.
Ibuku sudah melakukan pekerjaannya tiap pagi, memasak di dapur, aku memutuskan untuk minta sedikit dari makanan yang akan beliau dagangkan itu. Sampai pada pukul setengah lima pagi, aku sarapan dengan nasi hangat dengan lauk terong balado, kesukaanku akhir-akhir ini.
Setelah perutku akhirnya terisi dan energiku terpenuhi, aku membuka laptop dan mengerjakan sebuah pekerjaan, tapi bukan tugas kuliah. Mencari uang, tapi bukan dengan menulis. Aku sudah jarang menulis, jarang sekali, seperti sudah tidak ada nyawa-nyawa dalam tulisanku, seperti sudah tidak bisa kembali aku ke dunia itu. Mungkin memang butuh waktu.
Aku mandi pada pukul lima pagi saat Ibuku pergi keluar untuk membeli ayam mentah. Lalu aku naik setelah Ibu menyuruhku memasukkan cucian ke mesin cuci di lantai dua, yang kulanjutkan dengan duduk-duduk di balkon dan menikmati udara pagi. Di akun tumblr-ku yang lama, aku sudah pernah bilang bahwa langit pada fajar atau sebelum pukul lima pagi adalah yang terbaik, dan aku tidak rela bagi-bagi. Tapi nyatanya, aku juga ingin kalian tahu betapa indahnya langit tersebut.
Saat mandi, rasanya tidak enak sekali. Saat air mengguyur kepalaku, rasanya seperti kembali ke tahun 2006 saat aku menghabiskan hari-hariku di Semarang, kota kelahiran Bapak. Aku ingat ada dua kamar mandi, sore-sore Ibu memandikanku dan airnya dingin. Aku selalu teringat momen itu saat sedang mandi pagi atau mandi di sore hari selepas bangun dari tidur siang. Kalian tahu rasanya tidak nyaman. Seperti kau terbawa ke suatu masa yang berbeda, ada perasaan yang datang dan tidak enak, tapi kau tidak bisa menjelaskan itu apa.
Perasaan itu juga muncul dan mengingatkanku pada pagi hari saat di rumah kakek, aku dan saudara-saudaraku mengantri mandi sebelum pergi ke sholat hari raya. Rasanya juga seperti saat dipaksa mandi pagi karena pada hari tersebut akan melakukan perjalanan jauh, entah berkumpul atau berpisah. Mandi pagi atau sore hari saat airnya terasa dingin dan badan belum banyak bergerak, selalu mengingatkanku pada hal-hal tersebut. Tidak indah, rasanya seperti ada kesedihan yang dipaksakan. Kesedihan dari memori yang tidak ada sedih-sedihnya. Atau ini hanya terjadi padaku saja? Atau aku yang melebih-lebihkan perasaan saat momen mandi ini?
Tapi akhirnya aku berhasil mandi, aku berhasil pakai baju, aku berhasil mengoleskan lotion ke seluruh tubuhku, aku berhasil memakai skincare untuk wajahku, rencananya juga aku ingin pakai parfum, tapi sampai kutuliskan ini, aku belum memakai parfum. Aku gagal menyisir rambutku—meskipun sebenarnya tidak ada rencana untuk menyisir juga.

lalu ada suara burung. ada angin semilir dingin.
mungkin akan bagus kalau rumahku menghadap ke arah sebaliknya,
nanti aku bisa lihat bentangan sawah.

Aku menjadi penanggung jawab kelas untuk salah satu mata kuliah, aku dikirimi pesan oleh beliau pagi-pagi, mungkin itu mengapa aku tidak bisa tertidur juga pagi ini, karena alam dan tubuhku tahu bahwa akan ada yang mencariku pagi-pagi, dan itu harus kuberi respons.
Ohiya, aku juga bermain game saat terjaga semalaman ini. Tapi tumben, aku tidak menonton youtube. Aku tidak bersedih, aku tidak memikirkan apa yang membuatku sedih. Sepertinya tubuh dan kepalaku tahu waktu, mereka tidak mau menyusahkanku saat aku sedang banyak pekerjaan. Tidak ada celah bagi kesedihan untuk masuk ke dalam diriku.
Saat aku sampai di paragraf ini, jam di laptopku menunjukkan pukul 06,55.
Sebenarnya tulisan ini hanya membagikan kegiatanku selama semalaman aku terjaga karena mulanya aku terbangun oleh mimpi buruk dari tidur dua jamku. Tidak ada yang menarik. Tidak ada yang diromantisasi. Tidak ada apa-apa selain aku mencoba untuk bercerita kepada siapa saja, tapi tidak menyajikan keindahan kepada mereka. Mungkin besok, aka nada saatnya aku bisa menulis dengan menyentuh hati kembali. Mungkin besok, saat hatiku sudah sembuh atau menemukan sesuatu yang ia akhirnya memiliki rasa was-was untuk tersakiti lagi. Aku tertawa di bagian ini karena mencoba puitis HAHAH. Tapi aku hanya bercanda. Kata-katanya juga menggelikan.
Selamat pagi. Selamat menikmati hari, ya!

bentuk awannya kayak duri ikan



penampakan gang rumahku
Aku jarang menulis pada siang hari. Seperti seniman, penyair, dan pekerja seni lainnya, malam dan kesunyiannya adalah lingkungan kerja paling kondusif untuk kami. HAHAH. Sekarang aku mulai tertawa karena dengan percaya dirinya berani bilang bahwa aku salah satu dari mereka, dan memang karena aku selalu ingin menjadi bagian dari mereka. Tapi kita tidak membahas itu kali ini. Sekarang siang hari di hari Jumat, pukul 11:27, biasanya sudah mulai ada suara-suara dari masjid untuk pelaksanaan sholat Jumat, tapi hari ini belum ada.
            Ini sudah tanggal 10 April, empat hari lagi sudah genap sebulan sejak rektor memberikan surat edaran bahwa mahasiswa harus belajar di rumah dan dilarang mendekati area kampus sama sekali. Hari yang sangat sedih. Aku masih bertanya-tanya kenapa Tuhan saat itu membuatku harus ke kampus sore itu, mungkin aku sedikit tahu, tapi besok aku akan tanya lagi memastikan pada Tuhan kalau aku ketemu kapan-kapan, besok, masih lama.
            Kali ini, perpisahan memang membuatku memiliki lebih banyak waktu untuk merenungkan apa yang aku mau dan menyembuhkan diriku. Liburan sebelumnya memang aku sudah kabur dan menjauh, mungkin liburan kali itu hanya persiapan untuk hal yang benar-benar belum kuketahui. Tapi sekarang, social distancing kali ini seperti liburan, dengan segala kesibukannya, agar aku dapat memiliki waktu untuk mengalihkan pikiranku. Kurasa itu cukup ampuh. 
            Dua minggu pertama, aku stress parah. Akhirnya aku jatuh sakit pada minggu ke dua. Panas dan pusing. Seperti di kepalaku penuh dengan pekerjaan tanpa ada hiburan sama sekali. Minggu pertama aku masih bisa video call dengan teman-temanku, rasanya rindu dan ingin bersua, dua minggu pertama begitu, sampai puncaknya aku stress dan jatuh sakit. Aku break dari pekerjaan-pekerjaanku yang akhirnya jadi tambah menumpuk. Dan tentu saja aku tidak bisa break dari kuliah online yang rasanya lebih berat dari kuliah offline. Waktu perkuliahan yang suka melebihi jadwal, tugas-tugasnya yang melebihi tugas pada umumnya. Dua minggu pertama, rasanya aku sudah hendak menjadi gila.
            Selain itu aku juga sangat takut dengan wabah yang membuat kami harus tinggal di rumah ini. Rasanya wabah itu bisa berada di mana-mana, karena musuh yang paling mengerikan memang musuh yang tidak terlihat. Siapa tahu ia bisa sangat dekat denganku saat ini? Aku selalu takut saat Bapakku pulang dari kantor lalu bersih-bersih di kamarku padahal beliau belum mandi. Aku selalu takut saat asisten rumah tangga sebelah rumah mengobrol dengan Ibuku karena beliau juga terlihat selalu tetap bepergian ke mana-mana. Aku juga takut pada anak kecil depan rumah yang masih suka main dan tidak mau di rumah saja. Ketakutan bertambah membuatku kepikiran ketika anak sebelah rumah yang baru saja pulang dari PKL, membawa teman-temannya untuk kumpul di rumah. Semua itu membuat jiwa-jiwa cemasku kembali datang, lalu aku jatuh sakit.
            Minggu ke-tiga, aku sudah mulai tenang, aku sudah mulai berniat untuk berjemur dan sedikit melakukan meditasi pagi untuk menenangkan pikiranku. Mengatur waktu dengan tidur tepat waktu, olahraga, meditasi, dan tidak menunda-nunda pekerjaan cukup ampuh mengatasi kesehatan mentalku saat semester satu aku juga terkena sakit yang mengharuskanku mengatur pola pikirku. Karena tubuh yang sehat juga lahir dari psikologis yang sehat. Saat aku belum tuntas melaksanakan pola hidup dan pola pikir baik itu, aku kedatangan tamu bulanan, yang karena memang bulan ini berat, maka rasanya sakit sekali, lebih sakit dari biasanya.
            Karena rasa sakit itu aku jadi lupa makan, aku tidur pagi karena sakit sekali rasanya tidak tertahankan. Lalu aku bangun pada pukul sembilan pagi pada hari Kamis, langsung ke atas untuk berjemur, tapi ternyata mendung. Aku lalu tiduran di teras, dua jam aku tiduran di teras atas sambil mendengarkan musik. Lalu aku turun, tanpa makan lagi, dan tidur di kamarku. Sorenya, aku bermimpi dan berhalusinasi parah. Bahkan aku sudah bermimpi seseorang menjemputku dan mengajakku pergi. Saat aku berhasil bangun, aku demam tinggi, lalu malamnya aku menangis, menangis karena sakit memang membuatku ingin menangis saat itu karena rasanya panas dan pusing sekali. Selain itu aku memikirkan bagaimana bisa aku sampai bermimpi dijemput dan diajak pergi. Aku ingin bilang pada Ibuku soal mimpi itu, tapi yang datang adalah seseorang yang masih hidup, jadi aku berakhir menangis memikirkan apakah seseorang dalam mimpiku itu baik-baik saja, apakah kesehatannya baik, apakah mimpiku itu sebuah pertanda. Tapi, aku sudah tidak bisa tanya. Ini kedua kalinya aku memimpikannya sambil menangis di tahun ini.
            Akhirnya aku demam sampai hari Minggu. Lalu sorenya ternyata aku keluar gabag, dan aku gabagen dan pusing berakhir sampai hari Rabu. Hari Kamis aku sudah merasakan baik-baik saja. Aku sudah bisa makan dengan lidah yang normal juga badanku tidak gatal-gatal. Saat aku menimbang berat badan, di sana menunjukkan 52 kg—yang berakhir harus kupastikan apakah benar atau salah karena itu sebuah ketidakmungkinan. Berat badanku terakhir adalah 56 kg bahkan bisa lebih.
            Semalam, aku pergi ke atas, ke supermarket atas untuk melakukan transaksi dan beli sikat gigi. Pertama kalinya aku keluar rumah sejak sebulan. Aku pakai hodie dan masker, tertutup rapat. Di supermarket itu orang-orang berjarak satu meter saat akan membayar. Itu udara baik bagiku (meski pun secara nyata aku tidak menghirup udara sama sekali), tapi akhirnya aku keluar. Aku lihat di langit bintang-bintang bertaburan dan langit bersih, tapi aku tetap tidak bisa melihat milky way sih. Aku lihat jalanan yang benar-benar sepi, beberapa lampu jalan tidak dihidupkan. Dua minggu pertama, aku benar-benar tidak keluar pagar. Minggu ketiga, aku berani untuk ke depan rumah dan berjemur. Minggu ke-empat aku keluar malam-malam. Mungkin aku hanya harus terbiasa, karena di situasi seperti ini, aku harus bertahan untuk tetap sehat,
            Sekarang adalah tanggal 10 April 2020, perkembangan kasus COVID-19 di negaraku sudah mencapai angka 3296 kasus positif, itu yang sudah ketawan, kuyakin masih ada yang belum terdeteksi. Yang sembuh dari virus ini ada 252 orang dan yang meninggall ada 280. Aku tidak akan menjadi salah satu yang terinfeksi, sakit, lalu meninggal, begitu pun orangtuaku, adikku, kakekku, saudara-saudaraku, teman-temanku, dan orang yang memberiku semangat untuk hidup. Kita semua tidak akan menjadi bagian dari angka-angka itu. Kami akan segera bertemu dalam keadaan sehat dan berkumpul seperti biasanya.
            Aku nonton serial ‘Divergent’ dan ‘Maze Runners’ walau juga sebenarnya takut. Aku selalu takut dengan kondisi masa depan yang mereka bayangkan. Seperti terbatas dan terkurung. Aku tidak suka tempat seperti itu, aku tidak ingin membayangkan tinggal di dunia yang seperti itu. Tapi aku berhasil bersama Katniss menonton semua serial ‘The Hunger Games’, benar-benar berhasil melihat semua series, tapi selalu ketakutan oleh suara drum yang dibunyikan oleh orang-orang Capitol saat para pemain memasuki wilayah pertempuran. Pokoknya suara-suara itu selalu membuatku trauma. Menurutku, dunia saat ini sedang berada di situasi seperti itu.
            Aku selalu ingin terbangun di pagi hari dan mendapati bahwa dunia sekarang sedang bercanda, bahwa virus dan situasi yang membuatku harus terkurung di dalam rumah ini adalah mimpi buruk dan aku akan segera bangun. Tapi, ini kenyataan, aku bisa sakit, aku bisa merasakan nyeri-nyeri di badanku kemarin karena datang bulan, aku tidak bermimpi, dunia ini memang sedang mengurung manusia-manusia. Aku takut, tapi aku selalu tahu bahwa di dunia ini, manusia berbagi kehidupan dengan yang lainnya. Dan barangkali ini saatnya.
            Ada hal yang aku suka dari adanya wabah ini dan keharusan manusia melakukan social distancing dan work from home. Aku melihat di twitter banyak sekali foto-foto beredar tentang bumi di luar sana yang indah-indah, yang tidak akan ada apabila manusia tetap sibuk di luar sana. Langit yang cerah, udara yang segar, hewan-hewan yang bebas berkeliaran di alamnya. Aku melihat langit akhir-akhir ini, biru dan menenangkan. Aku suka fakta bahwa sekarang kita sedang mempersilahkan makhluk-makhluk hidup lainnya, termasuk bumi yang kita tinggali ini untuk bernapas sejenak, menyembuhkan dan bergantian menikmati hari-hari mereka tanpa keberadaan kita, manusia yang menakutkan.
            Tidak ada yang menjamin, apakah setelah ini situasi akan membaik, dan apabila membaik, apakah yakin bahwa ke depannya tidak akan ada cobaan berat begini lagi. Kurasa, semakin besok hari, hal-hal yang mengejutkan dan membuat manusia ketakutan akan jadi lebih beragam dan banyak. Tapi manusia tetap bisa memilih jalan kedamaian untuk saling membantu dan merengkuh atas dasar kemanusiaannya atas manusia lain.
            Ini aku, Vira, membagikan cerita tentang waktu sebulan yang kualami dengan berat dan naik turun selama di rumah. Aku percaya kita akan baik-baik saja dan tetap hidup. Aku bahkan sudah menetapkan rencana-rencana kalau wabah ini berakhir, aku sudah menetapkan tempat pertama di Jogja yang akan kukunjungi setelah ini. Jadi, aku akan baik-baik saja, begitu pun kalian. Aku sudah sakit dua kali, aku akan berusaha tidak sakit lagi. Toh juga karena wabah ini, aku tidak bisa kontrol rutin ke rumah sakit, jadi sebisa mungkin aku sehat tanpa pengawasan dokterku. Semoga kalian selalu sehat.


Setelah posting ini, aku posting foto langit,
untuk permintaan maaf karena tulisannya sangat berantakan dan tidak terarah.

           



seperti biasa, aku suka banget ngefoto pekerjaan wkw

Meskipun saat tulisan ini nantinya terposting otomatis sudah ada tanggalnya, tapi aku tetap mau bilang bahwa hari ini, hari Senin tanggal 16 Maret 2020 pukul 22:26, dan aku sedang proses menuliskan apa saja yang terjadi hari ini. Hari pertama aku tidak pergi ke kampus karena edaran dari fakultas dan kampus yang mengharuskanku melaksanakan kelas online dan dilarang untuk pergi atau mendekati area kampus. 2020 baru berjalan tiga bulan, tapi ternyata meski aku pribadi tidak terlalu menganggap berat tahun ini, nyatanya dunia memang sudah berantakan dan diuji berbagai cobaan.
            Jadi, kami dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar apalagi aktivitas berkelompok. Semua ini terjadi karena ada wabah COVID-19. Aku tidak mau menjelaskan apa itu di sini, kalau seseorang atau aku di masa depan membaca tulisan ini lagi, sudilah kiranya mencari informasi sendiri. Karena untuk saat ini, aku sudah terlampau lelah mendengar dan mengikuti perkembangannya sejak Januari, awal tahun ini. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dokterku kepikiran denganku karena hasil kontrol bulan lalu menunjukkan penurunan, saat beliau bertanya aku stress memikirkan apa, aku jawab bahwa aku overthink dengan corona. Aku sudah mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, tapi ini terlalu menakutkan bagiku.
            Kami tidak melakukan kuliah langsung atau tatap muka seperti biasa. Kami di rumah, dengan internet masing-masing, menggunakan kelas online. Hari ini aku mengikuti tiga mata kuliah, yaitu Teori Drama, Bahasa Belanda, dan Pengantar Multikulturalisme (yang sesungguhnya nama mata kuliah ini panjang namun aku hanya ingat sekiranya itulah namanya).
maaf fotonya di mana-mana itu, yang ada di laptop hanya itu btw huehue
Seharusnya kelas Teori Drama dimulai pukul 07.15, tapi karena sistem perkuliahan online yang berbeda dengan biasanya baru dimulai tadi, maka kelas dimulai pukul 09.00. Dan entah ini sebuah anugerah atau malah penderitaan, kelompokku menjadi kelompok pertama yang berpresentasi menggunakan sistem online yaitu dengan mengunggah materi presentasi dan makalah ke grup kelas Teori Drama di ELISA.
Malam sebelumnya, aku menjelaskan ke beberapa kawan dan juga kawan dari korea bagaimana cara mendaftar dan masuk ke grup. Ternyata, saat aku hendak melakukan presentasi, terjadi juga sedikit kesalahan, mungkin karena sistemnya yang tidak biasa. Tapi itu bukan apa-apa, yang lebih melelahkan lagi adalah saat waktu menunjukkan pukul 9.40 dan kelompok-kelompok kami persilahkan untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya hanya diajukan satu pertanyaan perkelompok apabila presentasi berlangsung secara tatap muka di kelas, kali ini ada yang sampai tiga pertanyaan. Tidak hanya satu dua kelompok, tapi barangkali hampir semua. Whatsapp grup kelompokku menjadi hectic, aku bertugas merangkum pertanyaan dan menyusunnya di ms word, sebenarnya aku hanya menjawab satu dua pertanyaan saja, sisanya aku menambah-nambahkan jawaban kawan-kawanku. Tapi ternyata sepertinya kerjaku sama seperti moderator, aku mengirim ulang pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, memindahkannya ke ms word, begini dan begitu.
kayak dosen lagi ngasih materi hewhew
Satu jam kurang lebih aku berkutat dengan laptop dan lupa minum, padahal aku harus minum banyak-banyak karena jujur tenggorokanku sedang tidak nyaman, aku meriang sejak dua tiga hari lalu. Tapi teman-teman kelompokku begitu hebat dan mau diajak bekerja sama, bahkan salah satu anggota kami ternyata sedang melakukan perjalanan untuk pulang kampung. Membayangkan ia harus spaneng menatap layar ponselnya sambil berpikir untuk menjawab-jawab pertanyaan. Kami membentuk tim yang baik dan kerjasama yang bagus. Mungkin aku yang banyak membuat mereka semakin panik, aku jadi merasa bersalah. Tapi untunglah, kami menyelesaikannya dengan baik. Meski kami telat mengirimkan jawaban, dan ada kelompok yang pertanyaannya bahkan belum kami bahas sama sekali.
Selesai mengirimkan jawaban di ELISA, dosen sudah tidak menanggapi. Aku sebenarnya agak merasa takut dan tidak enak karena tidak tepat waktu. Kami juga tidak menghubungi dosen lagi, aku baru ingat beberapa waktu kemudian, dan semoga dosen kami paham. Setelah itu, aku mengecek ponselku yang ternyata sama sekali tidak kupegang sedikit pun selama aku berkutat dengan jawaban-jawaban dari hasil pertanyaan presentasi. Aku menggunakan whatssapp web untuk berdiskusi. Saat kubuka notifikasi direct message di instagram, aku melihat dua kawanku menandaiku dalam instagram story mereka. Awalnya aku sudah lelah dan pusing, tiba-tiba jadi terhibur karena mereka lucu sekali, seperti ada acara besar apa saja.
selalu bisa ngehibur ni orang di saat-saat tidak terduga wkw, makasii

temen paling bikin produktif kalau lihat dia, makasii 

Saat itu, kelas Bahasa Belanda secara bersamaan telah dimulai. Karena waktu kelas Teori Drama mundur, maka otomatis jamnya bertabrakan dengan kelas Bahasa Belanda. Kami disuruh mengerjakan tugas, yang maaf sekali untuk meneer; begitu panggilan sembunyi-sembunyi kami untuk dosen Filologi dan Bahasa Belanda itu, aku tidak mengerjakan. Aku baru mengerjakan saat kelas selesai dan rasanya kok tega tidak tega juga. Kami disuruh mengerjakan soal di buku teks pelajaran kami, lalu kami disuruh bertanya apabila kesulitan, tapi tidak ada satu pun yang bertanya. Padahal, sewaktu aku mencoba mengerjakan satu nomor saat kelas sudah selesai, aku ternyata ingin bertanya apakah predikat dalam tata bahasa Belanda memang digunakan secara berbeda strukturnya dengan yang digunakan dalam bahasa Indonesia? Tapi ya sudah, semoga kelas berikutnya aku lebih bisa disiplin lagi.
maaf meneer, saya belum sarapan roti jadi tidak paham
Kelas terakhir, yang paling asyik dan paling menghibur adalah kelas Pengantar Multikulturalisme. Dosen kami dalam mata kuliah itu, meski pun adalah kaprodi, tidak serius dan galak seperti image-image penguasa pada umumnya. HAHAH maaf untuk penggunaan bahasaku yang ngaco. Kelas berlangsung menyenangkan. Kami disuruh membaca sebuah paper yang beliau tulis pada sekitaran tahun 2015.
Untuk tugas kali ini, aku juga hanya membaca bagian abstraknya saja. Karena ternyata ada 14 halaman yang harus kubaca, dan mataku sudah tidak kuat untuk serius menatap sesuatu sebanyak itu. Sisa-sisa kelelahan setelah Teori Drama itu rupanya masih melekat, apalagi itu sudah pukul 13.00, sudah melakukan ibadah siang dan sewaktu SD itu adalah waktu yang pas untuk tidur siang. Tapi karena kira-kira bagiku apa yang menjadi pertanyaan untuk didiskusikan masih umum dan mampu kupahami tanpa membaca bacaan, jadi aku sedikit tenang dan merasa bersyukur. Walau pun memang aku jadi tidak mampu nimbrung saat dosen menyuruh kami menganalisis pertanyaan beliau dan contoh-contoh terkaitnya yang ada dalam paper tersebut. Mana aku juga belum pernah membaca kedua novel yang menjadi pokok kajian dalam tulisan tersebut.
kalau senggang akan saya baca secara penuh penghayatan deh
Teman korea kuperhatikan butuh waktu cukup lama untuk mengetik, mungkin mereka bingung bagaimana menyampaikan opini mereka dengan bahasa yang baik dan benar, serta pas. Tapi saat jawaban mereka berhasil muncul di grup, ternyata jawabannya lumayan, aku juga jadi terbersit opini-opini baru yang ternyata mendukung jawabanku untuk mengakhiri atau menjadi pamungkas dalam diskusi grup kelas itu. Ternyata.
pokoknya opini pamungkasku menjadi :
kenapa percaya diri sekali memposting ini tapi begitulah huhu maafkan aku untuk ngeshare ini.
mana bahasanya belibet tidak konsen, ketawa, karena temanku ngelawak juga saat aku sedang ngetik itu.
masa ia menjawab, "hubungan keduanya baik-baik saja, Pak"

Kelasnya begitu santai, dan entah karena itu apakah kami kelewatan atau tidak karena menjadikannya bahan bercandaan, tapi memang seperti itulah anak muda seperti kami. Saat otakku sudah tidak mampu mengejar pikiran-pikiran ilmiah kawan-kawanku, Ibuku memanggilku untuk mengemil tahu bakso yang baru saja diangkat dari penggorengan, aku izin di grup untuk makan tahu bakso. Lalu saat aku kembali, aku memberikan opini pamungkasku. Mendapat jempol dari dosen. Lalu kelas berakhir tak lama setelah itu. Oh, ternyata tahu bakso dapat membuat lancar pikiran. Tidak, sebenarnya, agar otak dapat berjalan dengan baik, perut harus terisi. Begitulah.
from this
to this

Sejauh ini, ternyata aku masih lebih suka menghadiri kelas secara langsung dan bertemu dengan kawan-kawan bukan secara virtual. Kalau di kelas nyata, presentasi lebih mudah, lebih enak menjelaskan dengan bicara daripada menuliskannya dengan kata-kata. Kesalahpahaman-kesalahpahaman yang ada juga jadi dapat diluruskan dengan cepat, hambatan-hambatan dapat lebih teratasi dengan cepat. Menurutku lebih efisien dan aku merindukan pertemuan kelas secara langsung itu.
Aku berharap dapat segera kembali ke kampus. Semoga virus itu segera berhenti dalam pengelanaannya. Semoga pemerintah dapat lebih transparan, tegas, dan lebih pandai lagi dalam mengambil langkah-langkah. Menurutku juga semua pihak harus mendukung. Rumah-rumah sakit rujukan yang katanya menyediakan layanan tes COVID-19 secara gratis, tenaga medis yang tidak minim dan mumpuni, SOP dan sosialisasi yang diwartakan dengan jelas, serta masyarakat kita yang sama-sama sadar bahwa dengan social distancing seharusnya benar-benar dilakukan upaya minim interaksi di area publik demi keselamatan bersama. Serta tidak sombong atau takabur dengan menganggap remeh virus dan situasi yang sedang berlangsung saat ini.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Intinya. Aku kangen kampus. Aku ingin bertemu kawan-kawanku. Jadi aku berharap semoga dunia dan kita semua segera membaik. Seasyik-asyiknya kuliah online yang kubicarakan di atas, tidak ada yang lebih asyik daripada ketawa lepas sambil ngobrol di bangtem fakultas. Baru satu hari, tapi sudah kangen luar biasa.


Postingan Lama Beranda

ANOTHER HOME

  • SUN & BOOKS
  • SUN BOOKS TRACK
  • SUN & PROSE
  • SUN LONG PROSE

O S U N

A wanderer who read books & take notes
Diberdayakan oleh Blogger.

Author's Fav

JEMBAYA PAGI HARI DAN SECUIL PIKIRANKU

What's on Here?

Quarantine (3) LANGIT (2) LAUT (2) Batja Bokoe (1) SCHOOL (1)

Copyright © Litte Sun. Designed & Developed by OddThemes